Empat Jenis Karma (AN. 4:232) Agama Buddha

Umat Buddha diajarkan bahwa siapa pun yang berbuat, maka dialah yang akan menerima buah/hasil/akibatnya. Perbuatan apa pun yang dilakuan, baik atau buruk, itu pula yang akan diterima. Dalam Kitab Anguttara Nikaya IV 232, Buddha bersabda, “Para bhikkhu, empat jenis karma ini dinyatakan oleh-Ku setelah Aku merealisasikannya melalui pengetahuan langsung. Apakah empat itu?” Karma gelap dengan hasil yang gelap; karma terang dengan hasil yang terang; karma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang; karma yang tidak terang atau tidak gelap dengan hasil yang tidak gelap atau tidak terang yang menuju pada hancurnya karma.

Empat Jenis Karma

1. Karma Gelap – Hasil Gelap
Apakah karma gelap dengan hasil yang gelap? Jika seseorang berbuat melalui jasmani, ucapan, atau pikiran disertai dengan niat buruk. Niat buruk adalah karma gelap, yang akan menyebabkan penderitaan. Perbuatan buruk itulah yang menyebabkan orang akan terlahir kembali di alam yang menderita. Ketika terlahir di alam yang menderita, maka akan bertemu dengan segala sesuatu yang menyebabkan derita. Karena bertemu dengan hal-hal yang menyebabkan penderitaan, maka ia merasakan menderita, menyakitkan, tetapi tidak dapat menghindarinya. Contoh makhluk-makhluk yang terlahir di neraka. Mereka menderita di alam neraka, tetapi mereka tidak dapat menghindarinya.

2. Karma Terang – Hasil Terang
Apakah karma terang dengan hasil terang? Karma terang adalah perbuatan yang baik. Jika seseorang berbuat melalui jasmani, ucapan, atau pikiran disertai dengan niat baik. Perbuatan baik itulah, yang menyebabkan terlahir kembali di alam yang menenangkan (hasil terang). Ketika dia terlahir kembali di dunia yang menyenangkan, maka dia akan bertemu dengan segala sesuatu yang menyebabkan dia bahagia. Karena bertemu dengan hal-hal yang menyebabkan kebahagiaan, dia mengalami perasaan bahagia, menyenangkan, dan bahagia selalu mengikutinya. Misalnya yang dialami oleh para dewa di alam surga tingkat tinggi. Makhluk yang lahir di sorga adalah akibat karma baik.

3. Karma Terang dan Gelap – Hasil Terang dan Gelap
Apakah karma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang? Karma jenis ini merupakan campuran dari perbuatan-perbuatan baik dan buruk. Karma baik dapat diumpamakan seperti minyak dan karma buruk seperti air. Lalu, bagaimana minyak dan air dapat bercampur bersama? Memang, dengan cara biasa minyak dan air tidak dapat bercampur bersama. Namun, minyak dan air dapat dimasukan ke dalam satu tempat yang sama. Keduanya berada bersama sama di tempat yang sama, walaupun minyak tetap mengambang diatas air. Demikian pula, karma terang dan gelap dapat bersama sama, begitu pula dengan akibat-akibatnya. Bila perbuatan perbuatan baik dan buruk dilakukan bersama sama, maka kebahagiaan dan penderitaan sebagai akibat dari perbuatan juga akan muncul bersama. Sesugguhnya penderitaan dan kebahagiaan tidak dapat timbul pada saat yang sama, serta tidak ada dua macam karma baik dan buruk, menghasilkan akibat pada waktu yang sama. Kata “bersama” dalam hal ini berarti dalam satu masa kehidupan yang sama. Karma jenis ini dialami oleh manusia dan juga alam surga tingkat rendah. Kebahagiaan dan penderitaan silih berganti tetapi dalam wadah yang sama, yaitu alam manusia atau alam dewa tingkat rendah.

4. Karma Bukan Gelap pun Bukan Terang – Hasil Bukan Gelap pun Bukan Terang
Karma bukan gelap maupun terang berarti perbuatan yang tak dapat dinyatakan sebagai baik atau buruk serta keduanya. Karma bukan gelap maupun terang adalah perbuatan yang menuju pada tercapainya Nibbana. Sesungguhnya perbuatan demikian termasuk perbuatan baik. Tetapi perbuatan baik jenis ini dibedakan dengan perbuatan baik lainnya yang menyebabkan kelahiran kembali berulang-ulang. Karma bukan gelap pun bukan terang ini langsung mengarah pada pengakhiran kelahiran kembali. Inilah dasarnya mengapa Buddha tidak memasukkan karma macam ini ke dalam karma kategori terang atau baik.

Empat Jenis Karma

Mengenai karma bukan gelap maupun terang ini, Buddha menunjuk pada jalan utama berfaktor delapan, yang merupakan asas-asas praktek agama Buddha menuju ke Nibbana. Jalan utama berfaktor delapan tersebut adalah pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

Kisah Ibra yang Sombong
Ibra adalah nama panggilan bagi seekor kuda zebra yang gagah dan memiliki banyak kemampuan yang mengagumkan. Dia terkenal sangat cepat dalam berlari sehingga selalu menang dalam pertandingan lari. “Aku punya banyak waktu,” demikian yang selalu dikatakan Ibra. Setiap ikut pertandingan, dia selalu datang paling akhir. Akan tetapi, dia selalu menang. Pulang sekolah, dia selalu bermain-main dulu. Namun begitu, dia selalu tiba di rumah pada waktunya.

Ketika dia berenang di laut dengan teman-temannya, dia membiarkan dirinya terbawa ombak sampai ke tengah. Tetapi dalam sekejap mata dia bisa tiba kembali di pantai. Ya, dengan kakinya yang panjang dan langkah-langkahnya yang ringan, dia selalu menjadi juara. Ibra si kuda zebra sangat bangga dan dia menjadi agak sombong. Dia sering sekali mengatakan, “Aku? O, Aku punya banyak waktu. Aku bisa berjalan cepat.”

Pada suatu hari, Ibra harus bepergian ke kota naik kereta api. Teman-temannya mengantarnya ke stasiun. Sambil menunggu kereta, mereka bergurau dan tertawatawa. Seperti biasanya di antara teman-temannya, Si Ibra yang paling banyak membual. Tidak lama kemudian terdengar oleh mereka, “Jes! Jes! Jes! Tuit! Tuit! Tuit!” Nah, keretanya datang. “Silahkan naik,” kata kondektur.

Si Ibra masih saja berdiri di peron. “Ah, masih ada waktu,” katanya pada temantemannya. Kepala stasiun mengangkat tanda keberangkatan kereta, lalu meniup peluitnya.

“Cepat naik,” kata Si Angu alias Si Burung Bangau sambil mendorong Ibra agar segera naik kereta.

“Ah sebentar lagi!” kata Ibra agak jengkel. “Aku kan masih punya banyak waktu.” Jes! Jes! Jes! Tuit! Tuit! Tuit! Kereta mulai bergerak. Mula-mula sangat pelan. Jes! Jes! Jes! Tuit! Tuit! Tuit! Lalu bertambah cepat. Jes! Jes! Jes! Tuit! Tuit! Tuit! ... dan makin cepat. Barulah Si Ibra mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya, lalu melompat mengejar kereta yang telah berlari cepat. Ibra pun berlari dengan cepatnya.

Tetapi, bagaimanapun cepatnya Ibra lari, dia tidak bisa mengejar kereta itu. Ibra si Zebra menjadi sangat jengkel. Dia mencoba berlari lebih cepat lagi. Tetapi kereta itu tetap lebih cepat dari dia. Tiba-tiba cerobong asap di atas kereta lokomotif mulai mengeluarkan asap. Asap hitam itu masuk ke hidung dan mata Si Ibra. Ibra meringis karena marahnya. Terpaksa dia berhenti dan terbatuk-batuk sambil menggosok-gosok matanya. Yah, sekarang tidak mungkin lagi bisa mengejar kereta api. Dengan kepala tertunduk, Ibra berjalan pulang ke rumah. Baru sekali ini dia kalah dan dia marah, jengkel, kecewa. Karena Ibra marah-marah terus selama seminggu, akibatnya temantemannya tidak ada yang berani mendekat dan mengajaknya bicara. Ibra kehilangan teman-teman baiknya.

Pada akhirnya, Ibra tersadar atas sikap dan perilakunya selama ini yang tidak benar. Setelah menyadari semua itu, akhirnya Ibra menjadi lebih menghargai waktu. Dia pun kembali ceria, bermain dan bergurau dengan teman-temannya. Ibra sejak saat itu tidak lagi berkata, “Aku punya banyak waktu.”


Sumber : https://annibuku.com/

Komentar